SUKA DUKA PERJALANAN JADI DOSEN

Mengajar sebenarnya sudah dilakoni sejak tahun 1995.  Disambil dengan  magang di kantor auditor Agus Ubaidillah di cawang.

Pertengahan tahun 1996 ada tawaran untuk bekerja di perusahaan Humpuss milik anaknya pak Harto. Itu yang presiden kita yang diturunkan setelah adanya demo mahasiswa. Saat itu aku bekerja dibagian accounting  dengan job description adalah account receivable dan account payable.

Pak Harto lengser, kemudian beberapa perusahaan yang tergabung dalam Humpuss Group banyak melakukan PHK terhadap karyawannya. Aku entah termasuk dalam gelombang ke berapa.

Tahun 2000 dengan berbekal pesangon yang lumayan, aku melanjutkan sekolah lagi. Aku ambil S2 akuntansi di Univ. Diponegoro Semarang.  Saat menulis tesis rasanya sudah gak tahan berhadapan dengan pembimbing. Karena saat bimbingan itu aku pulang pergi naik kereta dari Jakarta ke Semarang. Pernah saat aku sampai di semarang dan ketemu pembimbing, eh.. beliau langsung bilang,”minggu depan aja deh kamu balik lagi”. Ya ampun …..gila gak. Dia pikir jarak yang aku tempuh dekat kali. Tapi akhirnya selesai juga .

Tahun 2002 bulan maret aku diwisuda berbarengan dengan suamiku yang sama-sama sekolah. Ada  cerita saat aku diwisuda. Direktur Pasca terheran- heran, ketika aku dipanggil untuk naik ke podium, suamiku yang pake toga juga naik, saat suamiku naik ke podium aku juga ikut naik. Setelah diterangkan oleh Prof. Imam Gozali, Phd. baru paham. Dan saat itu menurut pengelola magister akuntansi,  aku dan suamiku merupakan mahasiswa suami istri. Sampai ada satu dosen yang sering mengatakan aku dan suamiku sarimbit(berdua) aja kalau ketemu dia.

Tahun 2002 aku aktif lagi mengajar. Saat itu aku ngajar di Univ. Bung Karno, Univ. Satya Negara Indonesia, Univ. Islam Negeri, UPN, dan Univ. Mercu Buana.

Tahun 2003 suamiku langsung melanjutkan S3nya. Aku stop dulu. Karena ada si kecil.

Selama mengajar, ada saja kejadian yang kadang-kadang buat tetawa, terkadang ada juga yang menyebalkan. Ada kejadian yang aku gak bisa lupa sampai kapan pun.

Saat itu aku mengajar mata kuliah akuntansi internasional di salah satu universitas. Perkuliahan tingggal 2 kali lagi setelah itu UAS. Tiba-tiba mahasiswa mengajukan protes. Ternyata setelah di usut, mereka takut tidak lulus karena sebagian besar dari mereka absennya kurang. Dan mereka sebagian juga merupakan karyawan. Ini menjadi dilema buatku. Disatu sisi aku juga gak mau mahasiswa menggampangkan hal tersebut meskipun sebenarnya ada kebijakan dari kita dosen terhadap mereka, tetapi kadang-kadang mahasiswanya juga sudah dikasih hati minta jantung juga.

Tahun 2005 aku aku resmi menjadi mahasiswa S3 di Univ. Padjadjaran Bandung jurusan akuntansi. Saat itu aku tinggalkan si bungsu umur 8 bulan. Bisa bayangin gak gimana rasanya, ninggalin anak seumur itu dan si sulung baru 1 tahun lebih. Saat itu aku sudah menolak rencana suamiku supaya aku sekolah lagi. Tapi suamiku bilang,” mumpung anak-anak masih kecil, kamu bisa konsentrasi ke kuliah. Kan hanya 1 tahun saja kamu kuliah setelah itu kan tidak. Dan kamu bisa pulang kapan saja atau kami yang ke Bandung.”

Benar juga apa yang dibilang suamiku. Kalau aku kembali lagi ke Semarang, berat di ongkoslah.

Sekarang mulai diterapkan peraturan bahwa dosen minimal harus berpendidikan S2. Untung juga aku udah menjalankan separuh dari pendidikanku. Saat ini aku sudah jadi kandidat. Dan sedang menyiapkan prosal penelitian. Tolong doakan ya .


%d blogger menyukai ini: